Skenario Jahat Tragdei Poso

Jakarta – Sejak kabar kedatangan hingga kepulangan Presiden Bush, teror bom bermunculan. Ada yang sekadar isu, dan ada pula yang naga-naganya kecelakaan. Itu terjadi di SMU 3 Setiabudi, Jakarta, di SD Baliharjo Pacitan, serta di rumah Basori, Kopral Kepala anggota Arhanud di Malang, Jawa Timur. Kabar yang masih kabur itu tak pelak telah menebar kepanikan, serta mencuatkan ekspresi ketakutan. Padahal harapan dari pembuat isu itu amat ‘sederhana’, agar Bush dibenarkan sebagai biang terorisme. Kabar macam ini di Jawa masihlah bisa diterima akal. Heterogenitas manusia dan masalah, serta kompleksitas problematika yang ada memang memberi kemungkinan tentang itu. Tujuannya bermacam-macam. Namun karena peristiwa itu berdekatan dengan kedatangan dan kepulangan ‘tamu agung’ dari negeri Paman Sam itu, maka apa yang terjadi itu memang bertujuan agar peristiwa itu dikait-kaitkan, atau agar punya keterkaitan dengan Presiden yang mulai turun pamor itu. Namun yang kurang masuk akal soal isu macam itu adalah berbagai peristiwa yang terjadi di Poso. Konflik berkepanjangan di daerah ini, baik antar-penduduk maupun warga dengan aparat keamanan, rasa-rasanya kurang bisa diterima akal. Mengapa begitu? Karena selain bibit konflik itu sebenarnya ‘tidak ada’, juga dalam inventarisasi budaya, daerah ini sudah lama harmonis dan bisa hidup saling berdampingan secara mesra. Jika dikaji, potensi konflik di Poso tidaklah serentan Ambon yang kini sudah normal kembali. Selain kandungan positif yang termaktub dalam adat ‘pala’, secara historis, ternyata ada banyak kemungkinan Ambon untuk kembali saling baku-bunuh. Sebab dalam persoalan tokoh sejarah daerah ini, hingga sekarang tetap belum bisa menyatu. Patimura dan Christina Martha Tiahohu terus diperdebatkan. Dan tetap belum ditemukan konklusi akhir. Bagi masyarakat Islam di Ambon, atau kalau diperluas di Lease yang terdiri dari Pulau Ambon, Ina, Haruku, Saparua, Seram dan Pulau Buru, Patimura adalah kepanjangan dari Achmad Pattimura yang meluluhlantakkan pertahanan Belanda di gunung Verkedelleche yang ada di Pulau Saparua. Namun bagi pemeluk Kristen di kawasan ini, maka Pattimura sang pahlawan itu adalah Thomas Matulesi. Sedang pahlawan wanita daerah ini yang dikenal dengan nama Christina Martha Tiahohu juga mempunyai dua nama berdasar Islam dan Kristen. Jika nama di atas identik dengan penyebutan umat Nasrani, maka bagi yang beragama Islam, tokoh wanita itu bernama Siti Maryam. DiaIah Srikandi kelahiran Pulau Ina, yang melakukan pemberontakan untuk menentang penjajahan Belanda. Sejarah yang sama tetapi tidak sama itu amatlah rumit. Sejarah itu telah memberi kotak bagi perbedaan untuk kedua umat beragama yang berbeda ini. Dengan begitu, jika dikaitkan dengan pengajaran di sekolah, maka terasa ada sekat yang tidak memungkinkan untuk disatukan. Nama tokoh sejarah itu telah memberi ‘identitas’ terhadap agama apa yang dipeluk penyebutnya. Tapi berkat kesadaran dari masing-masing pemeluk agama di Ambon, maka perbedaan yang sulit untuk dipersatukan itu ternyata bisa bersatu. Ambon yang lama terlibat konflik basudara, toh akhirnya kini reda dan kondusif. Ambon kembali manise, dan saling berkesadaran untuk membangun daerahnya yang sempat luluhlantak akibat konflik. Jika Ambon yang ‘berbeda’ saja bisa dipersatukan, mengapa Poso yang relatif tak menyimpan budaya macam itu hingga kini harus terus menumpahkan darah? Adakah itu karena warga Poso ‘belum’ berkesadaran? Atau justru karena ada ‘skenario jahat’ yang dijalankan untuk ‘pembunuhan karakter’ tokoh tertentu untuk tujuan tertentu pula. Sinyalemen itu terpaksa terungkapkan, karena dari hari ke hari, di Poso masih tampak menegang. Suasana macam itu amatlah memprihatinkan. Sebab jika tergesek sedikit saja, maka konflik yang bermuatan SARA kembali meletup dengan korban yang tak terbayangkan. Untuk itu, agar asumsi destruktif itu mereda dengan sendirinya, kesigapan aparat serta penuntasan konflik di daerah ini perlulah sesegera mungkin dilakukan. Tanpa itu, maka jika kembali muncul konflik, dengan alasan apapun penyulut konflik itu, maka pastilah tudingan yang dialamatkan tak sekadar peristiwa itu dianggap sebagai kriminalitas yang dipicu persoalan SARA, tetapi akan melebar kemana-mana. Terjadi politisasi, ada dalang intelektual yang berdiri di baliknya.

Sumber : Detiknews.com

conclusion:
The above article is one of social conflict, that is sectarian conflict, the conflict that arises because of its social jealousy.
So is sensitive religious issues, little mistakes can lead to a war that could cause loss of life is not small, as in the above case, the victim reached thousands of people, actually there are many cases related to religion in the world today, one of his the biggest is the conflict of Israel and paletina, under the pretext of the attack and seizure of the territory (for this one please search itself, the writer has no explanation in detail) makes Palestine into a battlefield, that caused any casualties so many.
Its actually pretty easy to avoid problems between religions, namely tolerance and mutual respect, but at the end of his two very simple words are just words, it is very difficult to realize two things above, in because the human ego and pride.
The author can only pray that the problem was quickly resolved the problem very well, and always remind ourselves that we live not only his own.