Program konversi minyak tanah ke gas yang diharapkan akan lebih ekonomis dan dapat mengurangi subsidi dana pemerintah terhadap minyak tanah yang tersosialisasi sejak tahun 2009, sebetulnya dipandang sudah berjalan cukup baik dan terbukti cukup membantu ekonomi rakyat kecil.

Tetapi, sangat disayangkan bahwa ternyata masih banyak oknum yang tidak punya maksud baik telah melakukan manipulasi kualitas tabung gas ukuran 3 kg beserta regulator, selang dan karetnya , sehingga mengakibatka jatuhnya korban jiwa dan luka-luka akibat ledakan tabung gas ukuran 3 kg dikalangan rakyat kecil.

Tragedi meledaknya “bom” tabung elpiji ukuran 3 kg, tidak lepas dari faktor antara lain, lemahnya pengawasan oleh pihak yang berwenang terhadap pihak yang diberi tanggung jawab untuk memproduksi perangkat tabung gas ukuran 3 kg sampai tahap distribusinya ditangan penjual, lemahnya sosialisasi konversi minyak tanah ke gas elpiji 3 kg kepada masyarakat, pembiaran atas maraknya peredaran peralatan tabung gas ukuran 3 kg yang tidak sesuai dengan standar nasional dan adanya dugaan unsur kolusi antara oknum aparat dengan pihak ketiga yang berkepentingan dalam peredaran tabung gas ilegal.

Pertamina dan Deperindag hendaknya bertindak cepat dengan cara menarik seluruh tabung gas ukuran 3 kg beserta aksesorinya yang saat ini masih beredar dimasyarakat, kemudian menggantinya dengan tabung gas yang aman dan tidak membahayakan rakyat kecil. Selama ini, sudah menjadi rahasia umum bahwa ada indikasi telah terjadi praktek bisnis tidak sehat dalam proyek penyediaan tabung maupun aksesori elpiji kemasan 3 kg dijual bebas, padahal berpotensi terjadinya kecelakaan ledakan tabung gas elpiji.

Tidak ada cara lain, bahwa sosialisasi dan pengawasan merupakan dua hal yang harus dilakukan oleh instansi terkait dalam rangka menuntaskan musibah “bom” tabung gas ukuran 3 kg ilegal, agar program konversi minyak tanah ke gas bisa berjalan dengan baik.